Legenda Goa Seplawan Dan Gunung Kelir

Sejak zaman dahulu, rakyat desa Donorejo mengetahui cerita yang unik mengenai lokasi sekitar Goa Seplawan, yang berbukit-bukit, bertebing tinggi yang panjang dan banyak goa-goa (Jumbleng) yang berkaitan dengan cerita rakyat.

Cerita rakyat ini, ada kaitannya dengan cerita Patih Lowo Ijo, yang terjadi di pegunungan Menoreh sebelah utara, atau di sebelah selatan Candi Borobudur, yang terjadi kira-kira Th. 1370. Entah benar entah tidak yang tahu hanya Tuhan Yang Maha Esa sendiri.

Kisah ini datangnya dari mulut ke mulut, nenek moyang sampai ke cucu-cicit. Meskipun bukti peninggalan masih meragukan, namun kisahnya sudah mendarah daging di masyarakat. Dan cerita itu akan hidup di sepanjang masa, selama manusia masih bertebaran di bumi persada ini.

Oleh rakyat ceritera Goa Seplawan mempunyai ceritera sendiri yang berkaitan dengan cerita = Bandung Bondowoso dengan Roro Jonggrang, Putri Prabu Boka di Prambanan.

Cerita selanjutnya, di dekat Goa Seplawan Prabu Boka disuruh mendalang, hiburan wayang kulit semalam suntuk dalam rangka Bersih Desa.

Bandung Bondowoso yang sejak lama mempunyai rasa dendam dengan Prabu Boka, maka timbul keinginan akan membalas dendam di tempat keramaian itu.

Sedatangnya Bandung Bondowoso di tempat pewayangan, keramaian dibubarkan alat-alat pewayangan menjadi porak poranda, semua dirusak di buang jauh-jauh di sekitar keramaian.

Kelirnya jatuh di sebelah timur goa di Dusun Gunung Kelir, sampai sekarang dusun ini dilarang mengadakan kesenian wayang kulit.

Kotaknya (tempat menyimpan wayang) jatuh di Dusun Kali Kotak Desa Tlogoguwo, sampai sekarang simur itu masih menjadi sumber air minum.

Blencongnya (penerangan wayang kulit di waktu malam) jatuh di Dusun Sokomoyo. Tidak hanya itu saja yang dirusak, tetapi wayangnya juga dirusak dan di buang jauh-jauh.

Wayang Bolodewo (Ratu Madura) di Desa Jatimulyo. Raden Sadewa, jatuh di Desa Hulosobo, sampai sekarang  bukit itu dinamai Bukit Sadewa. Gunungan jatuh di Desa Jatiroto disebut Pager Gunung.

Wayang Hanoman dan Gajahtomo jatuh di desa Pandanrejo, sampai sekarang lokasi itu disebut Bukit Kendalisodo dan Gunung Gajah. Sisanya wayang-wayang, Semar Bodronoyo jatuh di dusun Kalilo, di Goa Semar. Sisanya jatuh di desa Plipir sampai sekarang disebut Sumur Wayang.

Semua tempat sesaji juga dirusak dan dibuang. Buncitnya dibuang, jatuh disebelah selatan Goa. Sampai sekarang tempat ini disebut Gunung Tumpeng. Ancaknya (tempat sesaji dibuat dari bambu) jatuh di dusun Sibentar, lokasi ini dinamai Sancak.

Prabu Boka setelah mengetahui yang merusak itu Bandung Bondowoso menjadi marah menjadi perang campuh lagi. Perangnya Prabu Boka dengan Bandung Bondowoso disekitar Goa, semua sama-sama saktinya dan sama kuatnya, injak menginjak silih berganti, bekas peperangan ini meninggalkan bekas rusaknya tanah berwujud goa-goa (jumbleng) sampai beberapa puluh jumblengan warga masyarakat banyak yang menjadi korban peperangan.

Tiap-tiap ada yang meninggal kepalanya dipotong di masukan dalam telaga, sebelah utara Goa, tempat ini sampai sekarang disebut Telaga Sirah ( sirah = kepala).

Dalam peperangan ini banyak yang melihat, memantau dari jauh, mereka merasa senang, gembira melihat peperangan sama kuat, dan sama saktinya, sampai sekarang bukit untuk memantau dinamai Gunung Keseneng, dusun Denansri, Donorejo.

Di wilayah lain, banyak masyarakat yang masih ketakutan adanya perang itu, lebih baik mengungsi dari pada diam di rumah, padahal daerah ini masih waktunya menuai padi gogo rancah, terpaksa ditinggalkan,. Setelah peperngan selesai, keadaan sudah aman, semua berbondong-bondong ke rumahnya masing-masing, tapi agak kecewa, karena padinya tidak adapt dipungut, karena sudah rusak semua. Sampai sekarang, dusun itu dinamai Dusun Gogoluas, desa Tlogoguwo.

Di dusun lain masih banyak cerita yang lainnya. Di Desa Donorejo, tepatnya di Dusun Jogowono, siang dan malam, dusunnya dijaga agar jangan sampai ada pencurian barang-barang miliknya, menjaga secara bergilir di Pos Penjagaan, tempat ini sampai sekarang disebut Panjer, termasuk dusun Jogowono.

Dan akhirnya peperangan antara Prabu Boka dengan Bandung Bondowoso, Prabu Boka kalah. Bandung menagih janjinya kepada Roro Jonggrang. Tetapi karena dewa tidak mengijinkan, Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang dicipta oleh Dewa menjadi Arca, yang dinamai “ARCA KENCANA” yang ditemukan di Goa Seplawan, lesung dan alunya terletak dekat pintu Goa.

Lebih detail mengenai sejarah goa seplawan bisa di baca di Menyingkap Misteri Goa Seplawan atau klik disini

Penulis: BERITA HARIAN DESA DONOREJO

Berbakti untuk negeri

4 thoughts on “Legenda Goa Seplawan Dan Gunung Kelir”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s