Upacara Bersih Desa

Upacara bersih Desa dengan dimeriahkan wayang kulit adalah suatu upacara yang sudah menjadi adat yang turun temurun di Dusun Katerban. Upacara bersih desa ini dilaksanakan setiap malam tanggal dua puluh tujuh pada bulan Rojab (kalender jawa), sedang harinya bisa berubah-ubah. Upacara ini selalu diadakan satu kali setiap tahunnya. Sudah menjadi kepercayaan dari warga dusun bahwa bila tidak dilaksanakan upacara ini akan mengakibatkan bencana sehingga kehidupan mereka tidak tenteram. Upacara ini akan menghabiskan banyak dana dari masyarakat. Hal ini karena pada upacara ini diadakan kenduru besar dan diadakan kesenian wayang kulit. Masyarakat harus menyisihkan dana yang lebih untuk membeli berbagai macam hidangan dan peralatan untuk kenduri serta membayar iuran untuk acara kesenian.

Sebagian orang menganggap bahwa upacara semacam ini  hanya hura-hura dan sudah ketinggalan jaman. Namun apabila dilihat dari sisi lain, upacara ini mempunyai suatau maksud dan tujuan moral tertentu. Pada upacara ini banyak tersimpan suatau pesan moral kepada seluruh warga dusun umumnya terutama kepada anak-anak sebagai generasi mudanya. Memang perlu disadari bahwa saat ini bangsa Indonesia tengah mengalami kemerosotan moral yang cukup tajam. Kita sekarang yang seakan kehilangan moralitas atau karakter yang telah dibangun berabad-abad. Keramahan, tenggang rasa, kesopanan, rendah hati, suka menolong, solidaritas social dan sebagainya, yang merupakan jatidiri bangsa, seolah-olah hilang begitu saja. Kondisi lingkungan social kita belakangan ini diwarnai oleh maraknya tindakan barbarisme, vandalisme baik fisik maupun nonfisik, adanya model-model KKN baru, hilangnya keteladanan pemimpin, sering terjadinya pembenaran politik dalam berbagai permasalahan yang jauh dari kebenaran universal, larutnya semangat rela berkorban demi bangsa semakin menjadi-jadi yang ditandai dengan maraknya tindak asusila, kekerasan, pembunuhan, perjudian, pornografi, meningkatnya kasusu kenakalan remaja, penyalah gunaan narkoba, minum-minuman keras, serta menjalarnya penyakit social lain tyang makin kronis. Oleh karena itu upacara yang bermuatan moral semacam ini perlu dilestarikan. Dengan demikian pendidikan moral tidak harus dilakukan di kelas oleh Guru tetapi bisa dilakukan dalam kegiatan masyarakat sehari-hari.

 

Penulis: BERITA HARIAN DESA DONOREJO

Berbakti untuk negeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s