Pola Hidup Masyarakat Desa Donorejo

Lahan yang ada di Donorejo pada saat Pemerintahan Kolonial Belanda masih berkuasa di Indonesia dibedakan menjadi dua, yaitu sebagian dikuasai perusahaan kehutanan Belanda atau di sebut BW3 dan sebagian lainnya milik rakyat. Lahan yang dikuasai oleh pemerintah Belanda di tumbuhi berbagai jenis pepohonan tapi masih liar, dalam arti belum dikelola secara teratur. Pada masa ini tanah milik petani masih banyak yang gundul. Komposisi tumbuhan yang ada masih didominasi oleh tanaman pangan semusim seperti tanaman jagung dan padi gogo.Tumbuhan berkayu masih jarang dibudidayakan.Tanaman pangan jagung dan padi menjadi pilihan untuk dibudayakan karena masyarakat akan merasa makmur ketika kebutuhan dasar yang berupa kebutuhan pangan sudah terpenuhi. Selain mengolah lahan, petani juga berternak kambing benggolo, kambing kacangan, kerbau, dan sapi. Peternakan dijalankan dengan sistem umbaran (liar) dimana ternak-ternak dilepas di lahan-lahan yang banyak pakan ternaknya, terutama rumput.

Sekitar tahun 1923 kambing jenis etawa mulai dikenal masyarakat namun masih untuk konsumsi orang Belanda. Kambing tersebut dikenalkan oleh orang-orang Belanda dan dibawa ke India dari sebuah distrik dengan nama Etawa. Ciri khas dari kambing ini adalah badan yang kurus dengan daging yang tipis. Pada waktu itu dibawa 5 pasang dan didatangkan di 5 glondongan (desa) diantaranya Donorejo. Pada mulanya kambing jenis ini hanya menjadi konsumsi orang Belanda saja karena kambing tersebut menghasilkan susu dan orang Belanda-lah yang terbiasa minum susu. Petani Donorejo saat itu mengolah tanahnya dengan cara membajak sawah dengan memanfaatkan hewan ternak mereka. Ketersediaan air pada masa ini cukup banyak karena desa ini mempunyai beberapa mata air. Meskipun demikian pada umumnya lahan yang ada berupa sawah tadah hujan.

Terjadi perubahan komposisi jenis tanaman yang cukup besar di masa pendudukan Jepang. Selain terdapat beberapa jenis yang tumbuh alami seperti aren dan kopi, pemerintah baru yang berkuasa mewajibkan petani untuk menanam jenis waluh, uwi, gadung, dan jarak. Lahan hutan yang dulu dikuasai pemerintah Belanda, pada masa ini terjaga dengan ketat dan akses masyarakat untuk masuk maupun memanfaatkan sama sekali tidak ada. Pada masa ini masyarakat mengalami masa-masa yang sangat memprihatinkan. Padi dan jagung sudah banyak berkurang karena perampasan, makanan pokok masyarakat berganti menjadi gelang(pati dari batang aren) sedang untuk minum teh masyarakat menggunakan daun kopi. Sebagai akibatnya penelolaan tanah mengalami sedikit perubahan, membajak tanah agak berkurang karena masyarakat mengurangi jenis padi dan jagung. Jenis baru yang ditanam membuat masyarakat memperlakukan tanah dengan cara dicangkul dan didangir saja.

Pada masa awal kemerdekaan penanaman jenis berkayu (masyarakat menyebutnya penghijauan) mulai digalakkan sehingga terdapat perubahan besar dalam komposisi jenis tanaman yang ada di lahan milik petani Donorejo. Di beberapa tempat padi gogo masih tetap ditanam. Jenis kopi yang tumbuh alami semakin banyak. Lahan yang dulu dikuasai pemerintah Belanda diambil alih oleh pemerintah Indonesia. Sekitar tahun 1950-an lahan tersebut dibuka untuk masyarakat dengan system kontrak selama tiga tahun. Masyarakat mempunyai akses untuk turut memanfaatkan lahan di sela-sela tumbuhan kayu untuk budidaya tanaman pangan dan tanaman semusim lainnya. Pada masa ini cengkeh mulai dikenal dan dibudidayakan masyarakat. Sementara itu di bidang peternakan, masyarakat Donorejo masih memelihara kambing benggolo, sapi, dan kerbau.

Pada awal masa orde baru tidak terdapat perubahan yang berarti. Perubahan besar dirasakan sejak tahun 1980-an. Perubahan diawali pada tahun 1979 dengan ditemukan sebuah arca yang terbuat dari emas di dalam Goa Seplawan yang ada di desa Donorejo. Peristiwa ini membuka akses Donorejo dengan wilayah di sekitarnya, pemerintah pun mulai melirik Donorejo. Pada waktu itu pemerintah dengan program demplotnya mencoba mengembangkan jenis sengon dan kaliandra. Selanjutnya kaliandra menjadi jenis tanaman yang sangat penting untuk masyarakat Donorejo yang mulai banyak memelihara kambing PE (Peranakan Etawa).

Selanjutnya kopi Arabica dan robusta banyak dipelihara oleh masyarakat. Sebagai akibatnya padi gogo tidak ditanam lagi dikarenakan sudah tidak ada lagi lahan yang terbuka. Masyarakat lebih memilih untuk menanam jenis hortikultura, seperti kapulaga, pisang, panili, merica, dan kemukus. Pada tahun 1982 kopi dan cengkeh mengalami panen besar. Kasus BPPC (Badan Penyangga Pemasaran Cengkeh) sangat mempengaruhi petani karena harga cengkeh yang mengalami penurunan drastis. Akan tetapi hal ini tidak sempat membuat perekonomian masyarakat terlalu ambruk karena di sisi lain sector peternakan maju pesat. Donorejo menjadi salah satu dari lima desa terbesar peternak kambing PE di Purworejo.

Sistem pertanian masyarakat selanjutnya semakin stabil, masyarakat juga telah mengenal sistem teras dalam hal mengelola lahannya yang sebagian besar berada di lereng-leeng bukit. Pupuk kandang masih banyak digunakan di samping pupuk buatan. Memasuki tahun 2000-an (masa reformasi) komposisi tumbuahn yang ada semakin beragam, dengan berbagai tanaman baik jenis berkayu, hortikultura maupun jenis pakan ternak. Campur tangan pemerintah dirasa mulai berkurang bahkan kegiatan penyuluhan tidak ada lagi. Perhatian petani pada lahan miliknya diwujudkan dalam kegiatan kegiatan pemeliharaan terutama untuk tanaman jenis pakan ternak yang menjadi komoditi utama di Donorejo.

Pada tahun 1980, terbentuk Kelompok Tani “SADAR”. Dengan adanya kelompok ini petani di Donorejo semakin sering mengikuti lomba-lomba pertanian, terutama sector peternakan. Bahkan sempat menjuarai perlombaan tingkat nasional, pada tahun 1989. Banyak orang dari luar daerah yangmengadakan studi banding, bahkan dari luar negeri. Pada tahun 1990 datang kunjungan dari India untuk melihat peranakan kambing Peranakan Etawa (PE) yang berasal dari negerinya. Akan tetapi, sampai saat ini para petani masih sulit untuk mengembangkan teknis pertaniannya. Petani hanya mengerjakan lahannya terkesan apa adanya meskipun disesuaikan dengan dinamika pasar local. Walaupun dengan kondisi demikian, kelompok tani di desa ini terus mengalami perkembangan. Ini terbukti dengan terbentuknya kelompok tani wanita. Di dalam masyarakat desa Donorejo terdapat pembedaan porsi kerja antara petani wanita dan pria. Petani pria lebih fokus pada sector produksi ; mengolah lahan dan menanam tanaman. Sedangkan pwtani wanita mempunyai tugas untuk mengerjakan pekerjaan pasca panen dan pemasaran.

Meskipun terletak di puncak bukit, Donorejo adalah sebuah desa yang cukup terkenal di wilayah Kabupaten Purworejo. Desa ini dikenal karena mempunyai sebuah obyek wisata Goa Seplawan. Keberadaan goa ini mempunyai nilai histories yang berkaitan dengan kondidi desa pada perkembangannya. Dengan dibukanya Goa Seplawan sebagai tempat wisata, maka praktis terbukalah akses masyarakat Donorejo dengan wilayah di sekitarnya. Hal ini sangat mempengaruhi percepatan perkembangan yang terjadi di Donorejo baik dalam masalah pertanian, peternakan, maupun perkembangan sosial di desa ini. Perbaikan fasilitas transportasi oleh pemerintah mulai dirasakan membantu kelancaran sektor ekonomi, khususnya bagi transportasi.

Penulis: BERITA HARIAN DESA DONOREJO

Berbakti untuk negeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s