Perubahan Sosial Masyarakat Donorejo

Perkembangan sosial masyarakat Donorejo sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari perkembangan dan berubahan masyarakat dalam memanfaatkan lahan dan juga kebijakan pemerintah (penguasa) pada kurun waktu tertentu. Yang menarik adalah di masa pemerintahan Belanda yaitu sekitar tahun 1930-an masyarakat merasakan bahwa keadaan desa makmur dan sejahtera .

Hal ini dikarenakan indikator kemakmuran dan kesejahteraan yang digunakan sangat sederhana. Masyarakat cukup merasakan kemakmuran dikarenakan adanya jaminan ketersediaan pangan, meskipun di musim kemarau mereka hanya makan tiwul dan jagung. Pemerintah desa (kelurahaan) saat itu sudah menerapkan kebijaksanaan pajak yang berupa uang. Pendidikan formal juga sudah diselenggarakan, akan tetapi masih terjadi diskriminasi, dimana yang mendapatkan kesempatan hanya keluarga orang-orang yang mempunyai jabatan dan orang-orang kaya desa saja.
Memasuki masa penjajahan Jepang, masyarakat merasakan adanya masa-masa kritis. Penjajah Jepang dengan menggunakan tentaranya berperilaku sangat represif terhadap masyarakat. Keadaan yang tadinya dirasakan makmur secara mendadak berubah menjadi serba sulit. Perampasan terhadap makanan dilakukan dengan sangat paksa. Masyarakat dalam sehari hanya bisa makan sekali itu pun belum tentu setiap hari. Pakaian pun hanya sebatas karung goni dan baju yang terbuat dari rami. Tidak ada minyak tanah, penerangan hanya memakai buah jarak yang dibakar sehingga berfungsi seperti lilin. Bahkan untuk minum teh masyarakat menggunakan daun kopi. Selain itu tentara Jepang melakukan “pencarian” terhadap anggota masyarakat yang non tani seperti pamong desa dan para guru. Keadaan masyarakat saat itu secara sosial memang tengah kacau balau. Sebagian anggota masyarakat juga ada yang dikirim sebagai Romusha. Mereka dikirim ke daerah Geger Menjangan, Kecamatan Loano untuk membangun Benteng Pendem. Masyarakat menyebut tentara jepang dengan “NIPPON” yang diartikan sebagai “Orang Yang Suka Menipu”
Keadaan agak berubah ketika memasuki masa kemerdekaan. Perilaku-perilaku represif yang dilakukan oleh tentara Jepang hilang dari kehidupan masyarakat desa. Pasca kemerdekaan, pemerintahan juga melalui menggalakkan pendidikan formal lewat SR (Sekolah Rakyat). Kemakmuran berangsur-angsur mulai dirasakan kembali. Kehidupan masyarakat tidak hanya sebatas bertani dan mengkonsumsi hasil pertanian, akan tetapi mulai melakukan perdagangan hasil bumi. Sehingga pada saat itu mulai muncul pasar desa. Keadaan agak rumit kembali ketika muncul isu-isu yang berkaitan dengan PKI. Muncul berbagai isu terutama menyangkut pamong. Waktu itu pengaruh PKI hanya dirasakan oleh masyarakat lewat kesenian yang dimotori oleh Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat), sebuah ormas di bawah PKI. Sehingga masyarakat mempunyai persepsi bahwa PKI adalah sekedar “Penjajah Kesenian”. Di awal masa orde baru keadaan masyarakat tidak banyak berubah. Tidak banyak kebijakan pemerintah yang menyentuh daerah ini. Ada perkembangan yang sangat positif di masyarakat yaitu dengan munculnya kelompok tani yang di sebut sebagai waragan. Kelompok waragan ini mempunyai fokus pekerjaan dalam pengolahan tanah bersama-sama. Oleh karana itu kelompok ini juga sering di sebut sebagai kelompok macul, karena perkerjaan utama mereka adalah mencangkul. Baru setelah ditemukannya Goa Seplawan, maka daerah ini ‘’mulai diperhatikan’’ secara serius oleh pemerintah.

Penulis: BERITA HARIAN DESA DONOREJO

Berbakti untuk negeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s